Anda berada di :

Beranda

Seminar & Kegiatan

Kontak

Reformed Center for Religion and Society

Perkantoran Plaza Pasifik B4, No 73-75
Jl. Raya Boulevard Barat
Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240
Tel: +6221 - 4584 2220 / 4584 2221 / 4584 2223 / 4584 2224
Fax: +6221 - 4585 4062
Email: reformed.crs@gmail.com
Web: www.reformed-crs.org

Jurnal

Societas Dei Vol. 03, No. 2, Oktober 2016

 

Dirk Griffioen, Utrecht Mission, Utrecht

THE RELEVANCE OF GOD'S COVENANT FOR A REFORMED THEOLOGY OF RELIGION

 

ABSTRAK:Dalam wahyu Allah, struktur perjanjian yang mencakup janji-janji Allah dan jawaban Israel akan janji tersebut. Di dalam perjanjian Allah telah menyatakan diri-Nya secara pribadi baik kepada individu dan kepada umat pilihan-Nya. Di dalam teologi agama yang dikemukakan Hendrik Kraemer, ada dua macam agama: agama (nubuatan) berdasarkan wahyu Allah, dan yang lain agama-agama (natural) yang berdasarkan usaha-usaha untuk menggenggam identitas dirinya yang sejati dengan realitas ilahi, hal ini diberi istilah “realisasi diri yang trans-empiris”. Apakah esensi agama yang berdasarkan penyataan diri Allah? Penyataan Allah adalah sumber satu-satunya akan semua pengetahuan mengenai spiritualitas sejati dan keselamatan di dalam Kristus. Alkitab adalah saksi akan wahyu Allah kepada para nabi dan para rasul sebagai kriteria akan seluruh kebenaran agamawi. Alkitab mengaitkan sejarah penebusan, memberikan dasar untuk iman pribadi, dan merupakan satu-satunya pegangan untuk hidup dan pelayanan dari komunitas Kristen. Dari titik tolak inilah saya mencoba untuk menganalisis konsep alkitabiah akan kebenaran agama sebagai satu standar untuk menentukan agama-agama, dan untuk memberikan jawaban yang sesungguhnya kepada wahyu diri Allah. KATA KUNCI: perjanjian, wahyu, iman, agama.

 

ABSTRACT: In God's Revelation, the structure of the covenant consists of God's promises and Israel’s answer to them. In the covenant God has revealed Himself personally to both individuals and his chosen people. In the theology of religion developed by Hendrik Kraemer, there are two types of religion: The (prophetic) religion based on God’s revelation and the other (naturalist) religions are based on efforts to grasp the identity of his real self with divine reality, this is called as ‘trans-empirical self realization’. What is the essence of religion based on God's self revelation? God's revelation is the only source of all knowledge about true spirituality and the salvation in Christ. The Bible as the witness of God's revelation to prophets and apostles is the criterion of all religious truth. The Bible relates the history of redemption, gives a foundation to personal faith, and is the only guidebook to the life and work of the Christian community. From this starting point I try to analyze the Biblical concept of religious truth as the standard for determining religions, and to give a real answer to God’s self revelation. KEYWORDS: covenant, revelation, faith, religion.

 


 

Togardo Siburian, Sekolah Tinggi Teologi Bandung 

MENUJU KESETARAAN DALAM BERAGAMA YANG BERBUDAYA:  REFLEKSI SEMINARIAN INJILI 

 

ABSTRACT: This article discusses a variety of modern man who is more civilized from the Evangelical perspective. Nowadays, the relations between different  religious people is still filled with religious violence and conflicts. This happens because of extreme radicalism views wich perhaps are caused by the leftovers of our religious studies  and practices in the past. There was a misunderstanding in processing religion wich could destroy the future of human civilization due to the absence of a culture of togetherness. The Evangelical Christianity may participate to think few principles of religious life wich are better for present humanity. The recommended principles are: 1) the importance of natural religious comparison in the normal society, 2) returning to the principle of missional church, 3) prioritizing the ethical emphasis more than the apologetical, 4) the balance between faith commitment and religious tolerance, 5) prophetic leadership rather than priesthood only, 6) faith particularism than religious exclusivism in inter-religious approach, 7) personal spirituality rather than individual religiosity. Thereby it is hoped that religious people may live together easier within the context of national unity and world peace. KEYWORDS: religious, conflict, collective civilization, normal comparison, ethical, prophetic, missional, particular.

 

ABSTRAK: Tulisan ini sedang mewacanakan suatu keberagamaan manusia modern yang lebih berkeadaban dari perspektif injili. Sekarang, relasi antarumat beragama masih dipenuhi kekerasan agama dan konflik.  Hal ini karena paham-paham radikalisme ekstrim, yang mungkin akibat sisa-sisa kajian dan praktek studi agama-keagamaan kita di masa lalu. Ada kesalahpahaman dalam beragama yang bisa menghancurkan masa depan peradaban manusia, karena absennya budaya kebersamaan.Kekristenan injili dapat berpartisipasi memikirkan beberapa prinsip kehidupan beragama yang lebih baik bagi masyarakat manusia masa kini. Prinsip-prinsip yang direkomendasikan itu adalah: 1) pentingnya perbandingan agama  natural dalam masyarakat normal, 2) kembali pada prinsip  gereja misional, 3) mendahulukan penekanan etis dibanding apologetis, 4) keseimbangkan komitmen iman dan toleransi beragama, 5) kepemimpinan kenabian dibanding keimamatan saja, 6) pendekatan partikularisme iman dibanding eksklusivisme agama dalam pendekatan antaragama, 7) spiritualitas personal dibanding religiusitas individual. Dengan demikian diharapkan umat beragama dapat lebih mudah hidup bersama dalam kesatuan bangsa dan kedamaian dunia. KATA KUNCI:  beragama, konflik, peradaban bersama, perbandingan normal, etis, profetis, misional, partikular.

 


Syaiful Arif,  Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D)

ISLAM, RADIKALISME DAN DERADIKALISASI BERBASIS PANCASILA

 

ABSTRACT: Religious radicalism (Islam) developed the theological thought to counter-Pancasila and the Republic of Indonesia (NKRI), it can be fought and softened with Pancasila itself. This is due to the fact that the cause of such radicalism is a misunderstanding to the Pancasila and its political system. Pancasila is regarded as a secular political ideology, whereas it actually cared pattern for the relationship between religion and state that upholds the values of divinity on the one side, and the public virtue on the other side. Deradizalisation of religion based on Pancasila can be applied with two strategies. First,  proving the existence of religious dimension of Pancasila and Republic of Indonesia to undermine the secular claims from the radical groups. Second, learning the nature of politics which contained in Pancasila. These nature of politics are more in line with the political ideals of Islam, rather than the ideology of Islamism which tends to the violent. KEYWORDS: Islam, radicalism, deradicalization, Pancasila.

 

ABSTRAK: Radikalisme agama (Islam) yang mengembangkan paham teologis kontra-Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa dilawan dan dilunakkan dengan Pancasila itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa penyebab radikalisme tersebut ialah kesalahpahaman terhadap Pancasila beserta sistem politik yang dinaunginya. Pancasila dianggap sebagai ideologi politik sekuler, padahal ia justru merawat pola hubungan agama dan negara yang menegakkan nilai-nilai ketuhanan di satu sisi, serta kebaikan publik di sisi lain. Deradikalisasi agama berbasis Pancasila oleh karenanya menerapkan dua strategi. Pertama, pembuktian dimensi agama dari Pancasila dan NKRI untuk meruntuhkan penilaian sekuleristik yang dilakukan kaum radikal. Kedua, pembelajaran hakikat politik yang termuat di dalam Pancasila. Hakikat politik ini yang sebenarnya lebih sesuai dengan cita-cita politik Islam, daripada ideologi islamisme yang penuh kekerasan. KATA KUNCI: Islam, radikalisme, deradikalisasi, Pancasila.

 


Edy Syahputra Sihombing, Mahasiswa Magister Unika Parahyangan, Bandung     

MENGHIDUPI KESEJATIAN AGAMA: TAWARAN YANG MENGGUGAT EKSISTENSI AGAMA

SEBAGAI USAHA PARTISIPATIF DALAM PEMBANGUNAN INDONESIA

 

ABSTRACK: Since human culture exist, religion is also exist in it’s variety. Religion has became the mode existence of human being. Basically the religion is the place to which gives space for humans to communicated, meet with the ultimate reality. In the development of human culture, religion is experiencing by a growing change in form and contents. Earlier, religion is a relationship between human and the ultimate reality, that overtime turned into an institutions that has systematically conceptualised doctrine in the form of dogmatic. The purpose of religion also shifted from efforts to more close eith the ultimate reality became human attempt to increase followers. Religion seem more concerned with quantity than quality. The shifts is likely to lead a conflict and violence to many people. This became a responsibility for Indonesian’s religions. This paper want to explain the truth of religion supposed and looking the positive influence of Indonesian’s religions in an influence of Indonesian’s religions in an attempt to build Indonesian become to nation that able to thrive religioan pluralism. KEYWORD: Religion, Paradigm, Ideology, Religious violence, Religious repentance, Indonesian development

ABSTRAK:



Lina Gunawan, Sekolah Tinggi Teologi  Reformed Injili Internasional

KESETARAAN DAN PERBEDAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN:

KRITIK TERHADAP GERAKAN FEMINISME

 

ABSTRACT: This article with a title: The Equality and Distinction Between Man and Woman: A Critique to the Feminist Movement", will firstly discuss about the feminist movement comprehensively and afterward itu will discuss about the feminist movement within Christianity, gender-equality issues, as well as the distinction between man and woman from the view of Christian feminism. After these, it will be discussed gender-equality issues and the distinction between man and woman from the perspective of Reformed theology. Then a critique  to the feminist movement within  Christianity will be discussed. The finding of this article is that the feminist movement within  Christianity has indeed grown a better appreciation for the woman,  especially in the equality between man and woman wich is a reality. The consequence is the authority of the Bible is accused by this Christian feminist movement. KEYWORDS: feminism, Christian feminism, equality, distinction, Reformed theology.

 

ABSTRAK:  Artikel yang berjudul “Kesetaraan dan Perbedaan Laki-laki dan Perempuan: Kritik terhadap Gerakan Feminisme” ini pertama-tama akan memaparkan mengenai gerakan feminisme secara menyeluruh, dan kemudian memaparkan mengenai gerakan feminisme dalam kekristenan, serta tema-tema kesetaraan, perbedaan laki-laki dan perempuan dalam pandangan feminisme Kristen. Kemudian dipaparkan mengenai tema-tema kesetaraan dan perbedaan laki-laki dan perempuan dari perspektif teologi Reformed. Setelah itu akan dipaparkan mengenai kritik terhadap gerakan feminisme dalam kekristenan. Temuan dalam tulisan ini adalah gerakan feminisme dalam kekristenan memang telah menumbuhkan kesadaran baru terhadap penghargaaan yang lebih baik terhadap perempuan, secara khusus dalam kesetaraan laki-laki dan perempuan. Namun, gerakan ini mengabaikan perbedaan laki-laki dan perempuan yang adalah sebuah realitas. Akibatnya, otoritas Alkitab mendapat gugatan dari gerakan feminisme Kristen ini. KATA KUNCI: feminisme, feminisme Kristen, kesetaraan, perbedaan, teologi Reformed


 

Selengkapnya

Artikel Terbaru

Benahi Bangsa Melalui Pendidikan Inovatif

Investor Daily 28 Okt 2015
Tandean Rustandy

Tanpa penguasaan pengetahuan yang terintegrasi, kita tidak mampu mengolah kekayaan alam yang berlimpah untuk pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Dibandingkan negara-negara Asean lainnya, pendidikan di negara kita jauh tertinggal. Ditambah dengan akses pendidikan yang belum merata. Ini kesalahan p

Selengkapnya>>

Selengkapnya